MAKALAH
PERADABAN
ISLAM DILINGKUNGAN
MASYARAKAT
KOTA
Makalah
ini disusun untuk memenuhi
Tugas
mata kuliah pemikiran dan peradaban islam
Dosen
pengampu: Dr.H. Muslich Ks,M.Ag
Disusun
Oleh:
Ruli
Aripin
15421160
HUKUM
ISLAM
FAKULTAS
ILMU AGAMA ISLAM
UNIVERSITAS
ISLAM INDONESIA
2015/2016
DAFTAR
ISI
HALAMAN JUDUL……………………………………………………………………………….......
DAFTAR ISI………………………………………………………………………………………….i
BAB II.PENDAHULUAN…………………………………………………………………………....ii
A. LATARBELAKANG……………………………………………………………………..ii
B. RUMUSANMASALAH………………………………………………………………….ii
C. TUJUAN
PENELITIAN…………………………………………………………………iii
BABII. PEMBAHASAN…………………………………………………………………………….1
A. SOSIALISASI
KULTUR MASYARAKAT KOTA…………………….……….............1
B. PANDANGAN
MASYARAKAT KOTA TERHADAP PERADABAN ISLAM…….......2
C. PERBEDAAN
PERADABAN ISLAM KOTA DAN DI PEDALAMAN..........................11
BAB
III. PENUTUP…………………………………………………………………………............12
KESIMPULAN………………………………………………………………………………...........12
BAB
I
PENDAHULUAN
A. LATAR
BELAKANG
Perkembangan peradaban yang dikenal
sebagai era globalisasi di dunia ini semakin menunjukkan eksistensinya sebagai
peradaban yang selalu berkembang. Dampak dari perkembangan era yang serba
digital ini sangat signifikan dalam kehidupan manusia. Ia datang kepada manusia
untuk memudahkan manusia dalam segala aktifitasnya. Bahkan imbas dari peradaban
tersebut masuk ke dalam kebudayaan, termasuk ke dalam budaya-budaya bangsa
Indonesia.
Masuknya
era globalisasi ke dalam kebudayaan manusia menganggap bahwa sebagian
kebudayaan tersebut ketinggalan zaman. Walaupun masih ada sebagian masyarakat yang
mentradisikan kebudayaan tersebut. Akan tetapi sebagian masyarakat sebagai
pelestari kebudayaan lambat laun mulai meninggalkan kebudayaan yang diciptakan
oleh nenek moyang. Bahkan muncul anggapan kebudayaan yang baru dipercaya
sebagai kebudayaan yang modern.
Sejatinya
apabila ditelusuri kebudayaan merupakan refleksi dari nilai-nilai, pandangan,
kebutuhan, keyakinan dan gagasan yang secara integratif diyakini oleh kemunitas
pendukungnya. Kebudayaan ini juga dapat dinyatakan sebagai jati diri sebuah
masyarakat Karena kebudayaan itu sendiri adalah hasil kegiatan dan
penciptaan batin (akal budi) manusia seperti kepercayaan, kesenian dan adat
istiadat. Diartikan juga sebagai keseluruhan pengetahuan manusia sebagai
makhluk sosial yang digunakan untuk memahami lingkungan serta pengalamannya dan
yang menjadi pedoman tingkah lakunya. Oleh karena itu, betapa pentingnya
kedudukannya dalam kehidupan masyarakat, maka perlu adanya pernyataan dan
sosialisasi dan proses pewarisan pada generasinya berikutnya.
B. RUMUSAN
MASALAH
1. Apa
peran sosialisasi kultur masyarakat kota?
2. Bagaimana
pandangan masyarakat kota semarang terhadap peradaban islam?
3. Apa
peran fungsi peradaban islam dimasyarakat kota?
4. Bagaimana perbedaan peradaban islam di lingkungan kota
dan pedalaman?
BAB
I
PEMBAHASAN
A. SOSIALISASI
KULTUR MASYARAKAT KOTA
Masyarakat
yang ada di Kota termasuk masyarakat yang religius. Di mana setiap individu
memeluk dan menjalankan agama dan kepercayaannya masing-masing. Hal ini tidak
lepas dari sejarah kota merupakan salah satu yang menjadi obyek persinggahan
dan penyebaran agama, terutama agama Islam yang mayoritas penduduk kota
Semarang beragama Islam.
Dalam
kehidupan beragama, masyarakat kota juga memiliki ritual-ritual khas keagamaan
yang dilaksanakan sebagai tradisi masyarakat. Selain ritual ibadah yang telah
diwajibkan agama masing-masing. Ritual tersebut yang mentradisi dilakukan
secara kolektif oleh masyarakat secara turun-menurun dengan tata cara tertentu.
Dalam proses tersebut terjadi akulturasi antara nilai-nilai agama yang dianut
dengan budaya etnik tertentu, bahkan ada yang merupakan akulturasi multikultural.
Terlebih dalam menjadi kota banyak
disinggahi dari berbagai etnis pendatang dari berbagai negara.
Keberagaman
etnis ini tergambar dengan adanya pemukiman seperti wilayah Pacinan dan
Pedamaran. Wilayah ini sekarang berada di sekita jalan Gang Pinggir sampai
jalan Mataram. Pemukiman ini didirikan oleh pendatang dari daratan Cina pada
masa Laksamana Chen Ho. Kemudian ada pemukiman orang-orang muslim melayu yang
mendirikan pemukiman di kawasan Kampung Darat dan Kampung Melayu. Demikian juga
orang muslim Arab, India, Pakistan dan Persia yang datang mendirikan pemukiman
di wilayah Pakojan. Kawasan ini di sekitar jalan Kauman, jalan Wahid Hasyim
sampai jalan Petek di bagian Utara.
Keberagaman
penduduk tersebut juga membuat keberagaman kebudayaan. Setiap warga mempunyai
kebudayaannya sendiri-sendiri berdasarkan negara asalnya. Namun seiring
berjalannya zaman terjadi sebuah pembauran secara kultur. Seolah tidak ada
batas antara kelompok masyarakat satu dengan masyarakat yang lain. Sehingga
jadi sebuah masyarakat yang multikultul dan multietnis. Dengan keadaan
tersebut, tidak di ragukan lagi bahwa islam berperan aktif dalam proses
kemajuan zaman dan globalisasi budaya. Globalisasi adalah proses penyeluruhan
kejagatan yang menempatkan berbagai fenomena kealam semestaan sebagai objek
yang kecil di mata setiap manusia.
Masyarakat
semangat mencari ilmu untuk mengejar kedua kajian besar manusia,realita islam
di lingkungan perkotaan menunjukan fenomena yang baik dalam keagamaan maupun
dalam social keagamaan , hal ini sejalan dengan kemajemukan masyarakat kota itu
sendiri, atas dasar suku,bahasa, agama, segmentasi umat islam di lingkungan
kota antara lain memiliki dimensi yang bersifat kultural maupun modern, artinya
keragaman kelompok masyarakat itu memiliki latar belakang budaya dan peradaban keagamaan yang relative berbeda,
sejalan dengan perbedaan latar belakang budaya kemasyarakatan mereka.
Pengaruh
latar belakang peradaban islam dikota dimaksud dapat diamati tentang pembahasan
pemikiran social keagamaan baik yang NU maupun muhamadiyah telah banyak di
telaah dan dipublikasikan, tetapi munculnya pemikiran islam Indonesia yang
dikembangkan oleh individu.
B. PANDANGAN
MASYARAKAT KOTA TERHADAP PERADABAN ISLAM
Sebagian
umat islam dilingkungan memiliki pandangan islam dalam menghadapi berbagai
peradaban islam diantaranya yaitu:
1. Memiliki
pandangan islam kritis
Segala persoalan yang dihadapi oleh
masyarakat islam dikota pada umumnya, dan khususnya di Indonesia. Dia memahami
bahwa akibat penjajahan yang cukup lama itu, umat islam dapat mengalami
penderitaan lahir dan batin, kemiskinan lahir batin ini menjadika sasaran empuk
bagi seruan faham faham dan ideology-ideologi seperti komunisme di lingkungan
masyarakat kota dan berbagai
aliran-aliran, umat islam di rasakan terancam secara krusial bahkan oleh campur
aduk dari tradisi-tradisi dan kepercayaan-kepercayaan yang serba khayal.
Diantara, usaha dalam meluruskan
pengertian, pemahaman, dan pengalaman ajaran islam. Sebagai penganut faham
ortodok dan modernis, perjuanagan untuk memurnikan dan meluruskan faham ke
islaman tentu merupakan perjuangan yang utama. Ajaran islam untuk menjadi dasar
pegangan tentang faham dan pengalaman ajaran islam yang lurus dan benar,
dinamis, di lingkungan masyarakat kota tentunya di dalam peradaban islam yang
seiring dengan perkembangan yang pesat di masyarakat kota tersebut. Pengertian pemahaman
dilingkungaqn masyarakat kota dalam memahami agama untuk berusaha membangkitkan
perhatian umat islam agar mendalami ilmu filasafat dan ilmu agama dalam
hubungannya dengan agama. Perjuangan untuk membangkitkan umat islam minat dalam
beragama sebagai modernis ortodoks masyarakat kota berusaha membentengi diri
agar tidak terpengaruh dan terperosok kedalam
agama-agama,ideology,ajaran-ajaran,dan faham yang sesat serta menyesatkan.
Sebagai masyarakat di lingkungan
perkotaan sadar bahwa didalam kehidupan modern, umat islam berhadapan dan
mendapat pengaruh dari berbagai paham keagamaan, ideology, dan aliran-aliran
kepercayaan lain.
2. islam
rasional
Para pemikir islam rasional antara
lain memiliki pikiran-pikiran keagamaan yang terfokus pada kenyataan bahwa
al-qur’an tidak memberikan panduan-panduan kehidupan secara detail. Karenanya
ijtihad menjadib sangat penting dalam bermusyawarah dilingkungan masyarakat.
Makna dari mekanisme untuk melakukan interprestasi atau reaksi atas doktrin
ajaran islam.dalam hal ini, kaum muslimin perlu untuk mempertimbangkan
pentingnya aspek-aspek local, kontekstual dan temporal dalam pengembangan
pemikiran . dengan demikian, kehidupan keagamaan komunitas muslim di masyarakat
kota tidak akan tercerabut dari nilai-nilai peradaban dan budaya mereka.
Obsesi kepada islam rasional,
paling tidak mempunyai relevansi dalam dua hal. Pertama, dalam hal
memperkenalkan etos rasionalitas dalam pemikiran islam. Dampak rasionalitas
dalam pemikiran islam ini adalah pembebasan masyarakat dari hal-hal bersifat
mitologis. Kedua, mencari pandangan-pandangan islam mengenai kapasitas manusia
yang mempunyai kebebasan.
Dalam membangun dasar islam
rasional ini, masyarakat melakukan eksplorasi tema-tema pokok teologis tentang
pandangan mengenai fungsi islam peradaban. Serta memberi keyakinan dasar-dasar
rasionalis yang kuat bagi munculnya intlektualisme islam dilingkungan
masyarakat. Sebaliknya, islam diposisikan sebagai factor komplementer dalam
pembentukan struktur social, budaya, dan politik nusantara yang heterogen dan
usaha untuk menempatkan sebagai “pemberi warna tunggal” hanya akan
menghantarkan sebagai factor divisive.
Gagasan islam sebagai factor
komplementer kehidupan social-budaya ,dan politik Indonesia dengan gagasan yang
mengajak komunitas islam untuk tidak memperlakukan islam sebagai sebuah
ideology alternative.dalam pandangannya, sebagai komponen utama dalam struktur
social masyarakat Indonesia, islam hendaknya tidak dileteakan secara
berhadap-hadapan dengan komponen-komponen lain.
Meskipun
demikian, masyarakat juga memperingati bahwa dalam proses pribumisasi tidak
boleh terjadi pencampuran antara islam, budaya dan peradaban lokal. Kendatipun
islam harus dipahami dengan mempertimbangkan konteks-konteks lokal , ciri islam
harus tetap dipertahankan dalam bentuknya yang asli.
3
Selain itu, masyarakat menyuarakan tentang perlunya
kesadaran non-sektarianistik islam sambil mencoba khazanah yang intelektual yang
dimiliki selama ini secara kritis. Genealogi intelektual keduanya ini hampir
sama, yakni di besarkan dalam pergulatan yang intensif dengan kitab kuning di
pesantren kemudian melakukan penggambaran ke dunia pemikiran barat secara lebih
percaya diri karena legitimasi.
Masyarakat muslim melihat masalah kemiskinan sebagai
suatu yang terbatas pada kemampuan individual masyarakat. Hal itu hanya akan
melestarikan kemiskinan itu sendiri, karena hanya akan berkesudahan pada
struktur perekonomian yang ekspoilitas dan menghisap daya hidup golongan kecil
belaka, apalagi katanya kalau pada kerangka yang sedemikian simplitif dimasukan
juga berbagai kecenderungan yang tidak membantu pemecahan masalah kemiskinan
itu sendiri. Seperti pendekatan skriptual dalam kehidupan beragama, sikap
legal-formalistik dalam kehidupan social dan pandangan dunia yang serba
apologetis.
3. Islam
sebagai peradaban
Problem-problem yang dihadapi oleh
masyarakat islam seperti ordinasi hokum kekeluargaan muslim, keluarga
berencana, riba dan bunga bank, zakat sebagai pajak, semabalihan mesin, soal
sunah, hadist dan wahyu. Dalam demikian kaum neo-modernisme Indonesia, boelh
diaktakan, walaupun tidak tepat betul. Yakni menjelaskan dan melakukan
transformasi, tapi harus jelas memihak pada nilai-nilai humanisasi,
liberalisasi, dan transendensi sebagai acuan perubahan.
Hal ini sejalan dengan tradisi
kenabian bahwa tradisi kenabian setiap nabi yang baru selain memiliki kesinambungan
ajaran dengan Nabi sebelumnya, juga advokasi untuk misi baru. Nabi Muhammad saw
adalah penerus tradisi monoteistik dari
nabi Ibrahim. Namun demikian, missi yang lebih penting dari nabi Muhammad saw
adalah reformasi kehidupan masyarakat arab yang didasarkan pada patronase
jahiliyah yang ekspoilitatif. Dengan ajaran tauhid yang menyatakan bahwa Allah
swt lah yang berhak di sembah, maka Muhammad saw telah menciptakan mekanisme
transendensi manusia untuk bias mempertanyakan apa saja di luar Allah swt, termasuk
struktur sosialnya yang menindas. Penindasan itu itulah yang membuat manusia
mati martabat dan harkat dirinya, bukan karena kehendak Allah, tapi karena
jeratan strukturalnya sendiri.
4. Islam
insklusif-pluralis
Insklusif-pluralis
adalah paham keberagaman yang didasarkan pada pandangan bahwa agama-agama lain
yang ada di dunia ini sebagai yang mengandung kebenaran dan dapat memberikan
manfaat serta keselamatan bagi penganutnya. Disamping itu, tidak semata-mata
menunjukan pada kenyataan tentand adanya kemajemukan, melainkan ketertiban aktif pada terhadap kenyataan
kemajemukan tersebut.
Secara
perlahan-lahan paradigm eksklusif dalam beragama mulai ditinggalkan, karena
tantangan etika kini lebih nyata dari pada tantangan teologis. Agma-agama dunia
mulai mengadopsi sikap inklusif yang terbuka dan mau mengerti pengalaman
beragama umat lain. Dialog adalah kata kunci didalamnya. Mengenai pergeseran
agama-agama keparadigma inklusif dan respon islam dalam menghadapinya.
5. Islam
integritas
Islam integritas adalah pandangan
para tokoh ilmuan muslim Indonesia yang menyatakan bahwa terdapat kesesuaian
dengan islam, terutama ayat-ayat al-qur,an. Dengan pendekatan integritas
integritas islam menujukan lapis-lapis struktur ilmu pengetahuan bagi masyarakat
yang dapat dimasuki dan diwarnai oleh unsur-unsur islam, dengan dasar pandangan
tersebut diatas, paar tokoh ini sering kali menunjukan kesesuaian temuan ilmu
pengethuan kontemporer dengan islam metafisika. Hal ini sejalan dengan
munculnya literatur ilmu pengetahuan kontemporer yang di ilhami oleh pengamatan
akan adanya kesejajaran ilmu pengetahuan.
6. Islam
kultural dinamis-dialogis
Di tengah kesimpangsiuran pelbagai
identitas islam yakni islam yang dijajakan oleh banyak cendikiawan muslim
Indonesia akhir-akhir ini, pemikiran islam kultural dinamis ini memberiakan
arahan yang jelas bagi masyarakat lingkungan modern setidaknya pemetaan wacana
keislaman yang dilakukan penggagasnya ini merupakan bagian dari agenda ijtihad
dan tajdid masyarakat kontemporer. Ini dilakukan untuk mencoba mengubah
paradigma keagamaan dari sekedar gerakan pembaharuan yang cenderung menafikan
isu-isu strategis untuk menempatkan nilai-nilai universal dari norma islam ke
arah sebuah gerakan yang benar-benar memperhitungkan, moralitas,estetiaka,ekologi,ekonomi,dan
hak-hak asasi manusia, serta relasi pria dan wanita.
7. Islam
eksklusif
Islam eksklusif merupakan pandangan
sikap bahwa yang memandang keyakinan,pandangan,pikiran,dan prinsip diri
sendirilah yang paling benar sementara keyakinan,pandangan,pikiran,dan prinsip
yang dianut orang lain salah, sesat dan harus dijauhi. Baik bersifat keluar
terhadap agama lain maupun kedalam yaitu dalam islam sendiri melalui berbagai
mazhab atau aliran dalam berbagai bidang,fiqih,teologi maupun tasawuf. Anggapan
yang dibangun, bahwa mazhab atau alirannyalah
yang paling bena, sedangkan yang lain salah dan bahkan dinilai sesat.
Penyebab munculnya islam eksklusif
dilingkungan masyarakat ialah wawasan yang sempit. Sikap yang dibangun hanya
untuk mengetahui satu mazhab atau satu aliran saja dalam aliran
teologi,fiqih,tasawuf,dan sebagainya. Sehingga masyarakat menjadi bimbang dalam
menentukan suatu hokum dalam memilih berbagai mazhab. Sesuai dengan fitrah
manusia, kesempurnaan ajaran islam dinilai dengan melihat bahwa ajaran islam
yang sempurna, sesuai dengan fitrah manusia dari sini timbullah anggapan sikap
yang tidak merasa perlu lagi belajar atau mengetahui agama yang lain.atau malah
sebaliknya, penganut-penganut agama inilah yang seharusnya masuk agama islam.
Timbulnya eksklusif pada bagian
kalangan penganut agama islam, tidak bias dilepaskan dari factor sejarah. Ini
sangat berkaitan dengan berbagai konflik yang terjadi seperti konflik islam
dengan Kristen dalam perang salib selama 3 abad atau konflik yang sama.
Penting untuk dikemukakan disini,
bahwa tidak mengakui keberadaaan suatu paham atau aliran keagamaan,sama saja
dengan tidak menghargai hak asasi manusia. Keberadaan suatu aliran keagamaan
tidak memerlukan pengakuan dari sebuah institusi apapun, termasuk institusi
keagamaan. seiring dengan itu, dalam sejarahnya pelaranagn terhadap berbagai
aliran keagamaan dalam kenyataannya tidak efektif. Sebab, hal ini menyangkut
keyakinan pribadi seseorang.keyakinan seseorang tidak mungkin ditaklukan dengan
kekuasaan atau kekuatan mayoritas. Hal ini merupakan prinsip kebebasan ekspresi
keagamaan atau penafsiran terhadap agama.
Pemaksaan dalam hal agama adalah
bertentangan denagn ajaran agama itu sendiri dan secar diametral juga
bertentangan martabat manusia sebagai makhluk yang merdeka.
C. PERAN
PERADABAN ISLAM DI MASYARAKAT KOTA
1. Pendidikan
Pesantren adalah
salah satu sistem pendidikan Islam yang ada diIndonesia dengan
ciri yang khas dan unik, juga dianggap sebagai sistem pendidikan paling tua di
Indonesia. Pesantren merupakan salah satu unsur penggerak Islam di
Indonesia, menjadi tempat penyebaran Islam sekaligus berperan dalam
bidang keagamaan, pendidikan, sosial, politik dan ekonomi. Peran-peran itu
sampai saat ini masih melekat pada diri pesantren. Pelaksanaan kegiatan
ini merupakan sebuah ekspresi dan penyadaran umat Islam Indonesia yang
merupakan muslim terbanyak di dunia terhadap potensi pesantren sebagai salah
satu pusat peradaban Islam Indonesia.Selain itu, dalam pendidikan Islam di Indonesia
juga dikenal adanya Madrasah Ibtidaiyah (dasar),madrasah
Tsanawiyah (lanjutan), dan Madrasah Aliyah (menengah). Untuk
tingkat universitas Islam di Indonesia juga kian maju seiring dengan
perkembangan zaman, hal ini dapat dilihat dari terus beragamnya universitas
Islam. Hampir disetiap provinsi di Indonesia dapat dijumpai Institut
Agama Islam Negeri serta beberapa universitas Islam lainnya.
2. Peran
pesantren
Pesantren adalah salah satu
sistem pendidikan Islam yang ada diIndonesia dengan ciri yang
khas dan unik, juga dianggap sebagai sistem pendidikan paling tua di
Indonesia. Pesantren merupakan salah satu unsur penggerak Islam di
Indonesia, menjadi tempat penyebaran Islam sekaligus berperan dalam
bidang keagamaan, pendidikan, sosial, politik dan ekonomi. Peran-peran itu
sampai saat ini masih melekat pada diri pesantren. Tujuan berdirinya pesantren
dalam lingkungan masyarakat:
1. Pesantren
sejak awal tetap konsisten melakukan peran dakwah keagamaan, peran pendidikan
dan peran pencerdasan umat sehingga mampu menghasilkan tokoh ulama
panutan, tokoh nasional, para pejuang kemerdekaan, para pejabat pemerintahan,
politisi, tokoh pendidik dan ilmuan. Banyak komunitas santri yang berasal dari
pesantren memainkan peran penting pada institusi-institusi strategis.
2. Pesantren
mampu mensintesiskan antara modernisme dengan tradisi Islam yang menjadi
kekuatan pesantren. Kekuatan tradisional yang dimiliki oleh pesantren di
antaranya adalah kekayaan khazanah keilmuan klasik yang tertuang dalam kitab
kuning. Sehingga, pelbagai wacana publik seperti demokrasi, kesetaraan jender,
HAM, dan lain-lain diperkuat oleh kalangan pesantren secara teologis.
3. Perkembangan
dan perubahan dalam pesantren sangat signifikan. Jumlah pesantren semakin
bertambah dan bentuk pelayanan yang diberikan semakin berkembang dengan
mengadopsi sistem pendidikan di luarnya mulai dari pendidikan non formal,
pendidikan formal sampai berbagai program dan pendidikan ketrampilan.
Pendidikan formal yang berkembang mulai dari pra sekolah, pendidikan
dasar, menengah sampai pendidikan tinggi. Dari sistem pendidikan pesantren
secara linear berkembang menjadi pendidikan agama dan keagamaan seperti
madrasah dan perguruan tinggi agama dan universitas Islam. Dengan perkembangan
itu pesantren menjadi embrio bagi perdaban Islam sesungguhnya di Indonesia.
4. Organisasi
Terdapat
beberapa organisasi Islam di Indonesia, di antaranya adalah Nahdlatul
Ulama (NU), Muhammadiyah, Jamiat Khair, sebuah organisasi Islam
tempat para ulama dan aktivis bergabung, tempat bermulanya Ahmad
Soorkati mengawali karier
dakwahnya di Indonesia. Ia diundang
secara khusus oleh gerakan ini untuk menjadi pengajar pada berbagai badan
pendidikan yang dirintisnya pada tahun 1912. Ia datang dari Sudan, membawa dan
mengusung pola pikir rasional dalam berbagai kuliahnya. NU merupakan organisasi
Islam terbesar di Indonesia dengan anggota sekitar 35 juta. NU seringkali
dikategorikan sebagai Islam traditional, salah satunya karena sistem
pendidikan pesantrennya. Muhammadiyah merupakan organisasi Islam terbesar
kedua, dengan anggotanya yang sekitar 30 juta. Muhammadiyah memiliki ribuan
sekolah, universitas, dan lembaga pendidikan tinggi serta ratusan rumah sakit
di seluruh Indonesia.
Selain ketiga organisasi diatas, di Indonesia juga dikenal
adanyaFront Pembela Islam, Majelis Mujahidin Indonesia, dan Hizbut
Tahrir Indonesia.
Jauh sebelum Islam
masuk ke Indonesia, bangsa Indonesia telah memeluk agama hindu dan budha
disamping kepercayaan nenek moyang mereka yang menganut animisme dan dinamisme.
Setelah Islam masuk ke Indonesia, Islam berpengaruh besar baik dalam bidang
politik, sosial, ekonomi,maupun di bidang kebudayaan yang antara lain seperti
di bawah ini.
5.
Budaya, Adat
Istiadat dan Seni
Bahasa Indonesia sebagai bahasa
persatuan sangat banyak dipengaruhi oleh bahasa Arab. Bahasa Arab sudah banyak
menyatu dalam kosa kata bahasa Indonesia, contohnya kata wajib, fardu, lahir,
bathin, musyawarah, surat, kabar, koran, jual, kursi dan masker. Dalam hal nama
juga banyak dipakai nama-nama yang berciri Islam (Arab).Kebiasaan yang banyak
berkembang dari budaya Islam dapat berupa ucapan salam, acara tahlilan,
syukuran, yasinan dan lain-lain. Dalam hal kesenian, banyak dijumpai seni musik
seperti kasidah, rebana, marawis, barzanji dan shalawat. Kita juga melihat
pengaruh di bidang seni arsitektur rumah peribadatan atau masjid di Indonesia
yang banyak dipengaruhi oleh arsitektur masjid yang ada di wilayah Timur
Tengah.
6. Politik
Pengaruh ini dapat
dilihat dalam sistem pemerintahan kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia seperti
konsep khilafah atau kesultanan yang sering kita jumpai pada kerajaan-kerajaan
seperti Aceh, Mataram. Demak, Banten dan Tidore. ada juga beberapa daerah
yang diberikan keistimewaan untuk menerapkan syariat Islam, seperti Aceh.
Seiring
dengan reformasi 1998, di Indonesia jumlah partai politik Islam kian
bertambah. Bila sebelumnya hanya ada satu partai politik Islam,
yakni Partai Persatuan Pembangunan-akibat adanya kebijakan pemerintah yang
membatasi jumlah partai politik, pada pemilu 2004 terdapat enam partai politik
yang berasaskan Islam, yaitu Partai Persatuan Pembangunan,Partai Keadilan
Sejahtera, Partai Bintang Reformasi, Partai Amanat
Nasional, Partai Kebangkitan Bangsa dan Partai Bulan Bintang
7.
Ekonomi
Daerah-daerah pesisir sering
dikunjungi para pedagang Islam dari Arab, Persi,dan Gujarat yang menerapkan
konsep jual beli secara Islam. Juga adanya kewajiban membayar zakat atau amal
jariyah yang lainnya, seperti sedekah, infak, waqaf, menyantuni yatim, piatu,
fakir dan miskin. Hal itu membuat perekonomian umat Islam semakin berkembang.
8.
Peran sekolah
islam
Peran dalam sekolah islam ialah mewujudkan
nilai-nilai sikap yang berbudi luhur dan menciptakan prilaku atau akhlak yang
baik. Agar kehidupan masyarakat dapat seimbang antara kehidupan religious
maupun social yang dapat tercermin oleh sikap di lingkungan masyarakat kota
maupun di lingkungan masyarakat desa. Oleh karena itu, di laksanakannya sekolah
islam agar setiap anak memiliki akhlakul karimah dan memiliki potensi
nilai-nilai dasar islam contoh sekolah islam yang bertujuan untuk menciptakan
nilai-nilai dasar islam dalam kehidupan masyarakat.
a.
Madrasah
ibtidaiyah
Madrasah ibtidaiyah merupakan sekolah islam yang
bertujuan untuk menciptakan dan membangun nilai-nilai dasar islam pada anak
usia dini agar di dalam diri seorang anak tersebut memiliki akhlakul karimah
terhadap kehidupan bermasyarakat bukan hanya itu tetapi juga, dengan adanya
sekolah islam ini supaya seseorang anak ini dapat menyeimbangkan dalam
kehidupan bermasyarakat. Sekolah ibtidaiyah ini bukan hanya di lingkungan
masyarakat kota saja melainkan sekolah islam ini terdapat di wilayah desa,
terutama di wilayah terpencil. Tujuan utama selain dalam sistem pendidikan
sekolah islam ini juga dapat menciptakan peradaban islam dimasa dini hal ini
agar seorang anak dapat menciptakan nilai-niali budaya islam yang matang dan
memiliki sikap akhlak bernegara.
b.
Madrasah tsanawiyah
Madrasah
tsanawiyah ini merupakan sekolah islam tingkat menengah yang bertujuan untuk
mematangkan sikap akhlak yang baik dalam kehidupan masyarakat dan dapat
menyeimbangkan budaya islam maupun budaya social masyarakat. Hal ini merupakan
tingkat lanjut dari nilai dasar yang telah tumbuh di sekolah islam tingkat
dasar. Dan dari sini seorang anak di tuntut untuk memiliki sikap akhlakul
kariamah yang dewasa. Agar dalam kehidupan masyarakat dapat memiliki akhlak
yang berbeda dengan yang lain.
c. Madrasah aliyah
Madrasah aliyah ini merupakan sekolah islam tingkat
atas yang lanjutan dari madrasah tsanawiyah yang telah diajarkan nilai-nilai
berbudaya,akhlakul karimah, serta dapat menciptakan nilai-nilai peradaban islam
di lingkungan masyarakat kota maupun desa yang memiliki ragam budaya dan dari
sinilah seorang anak tersebut dapat mengamalkan nilai-nilai peradaban islam
yang telah di beri di tingkat awal. Selain itu, disekolah tingkat atas ini mereka
bias menciptakan peradaban islam yang baik sehingga dapat di terima oleh
masyarakat.
d.
STI
STI merupakan sekolah tinggi islam yang kelanjutan
dari MA (madrasah aliyah) yang di dirikan untuk lebih mendalami nilai-nilai
islam yang telah diajarkan di sekolah islam atas. Bukan hanya untuk mendalami
nilai-niilai islam saja tetapi dapat menciptakan akhlak yang lebih matang dan
memiliki pandangan yang luas. Hal ini bertujuan untuk awal dapat menciptakan
kemaslahatan umat dan menciptakan amar ma’ruf nahi mungkar dalam negara maupun
lingkungan masyarakat. Dan menciptakan seorang pemimpin yang ma’ruf dan dapat
menjadikan peradaban islam yang baik di negara.
D. PERBEDAAN PERADABAN ISLAM KOTA DAN DI PEDALAMAN
Peradaban islam di lingkungan masyarakat kota dan
desa memang mempunyai perbedaan yang jauh, bahkan lebih maju peradaban islam dikota
di bandingkan di pedalaman hal ini karena dilingkungan masyarakat kota
mempunyai solidaritas yang lemah namun lebih unggul di perekonomian di banding
solidaritas antar masyarakat. Sebab masyarakat kota lebih mementingkan
perekonomian di bandingkan pluralisme beragama di sekitarnya sehingga peradaban
islam di wilayah kota lebih modern dan lemah dalam peradaban islam. Oleh karena
itu, di dalam peradaban islam diwilayah kota melemah karena kurang kerjasama
antar warga. Bukan hanya peradaban islam saja yang melemah namun budaya islam
seperti tahlilan dan isro’ mi’roj juga jarang. Ada namun dalam pelaksanaannya
lebih besar di bandingkan di daerah pedesaan yang lebih mengutamakan acara
selametan di sebuah surau.
Peradaban islam
di lingkungan masyarakat kota justru lemah namun modern. Bukti dari itu
ialah dilihat dari aktifitas sehari-hari yaitu hilangnya rasa kebersamaan dalam
lingkungan masyarakat kota. Beserta hilangnya budaya masyarakat seperti budaya
tahlilan maupun syukuran. Mereka hanya mementingkan kehidupan diri sendiri
maupun perekonomian, mereka kurang mempercayai dengan adanya mitos-mitos budaya
baik budaya islam maupun non islam. Penyebab hilangnya budaya maupun pluralisme
agama antar masyarakat yaitu berkembangnya pengetahuan modern yang cukup pesat,
sehingga interaksi antar warga kurang.
Berbeda dengan peradaban islam di kehidupan
masyarakat pedalaman, mereka lebih mengutamakan kehidupan social, peradaban
islam, maupun unsur religious. Sehingga peradaban islam di lingkungan
masyarakat pedalaman lebih kuat dibandingkan dengan peradaban islam di kota.
Namun dalam sistem pendidikan masyarakat desa lebih lemah, tetapi tidak dengan
sekarang justru kehidupan di pedalaman dapat seimbang antara kehidupan social
dan religious, contoh kehidupan social dan religious ialah
dalam,agama,pendidikan maupun perekonomian. Oleh karena itu, masyarakat desa
dapat seimbang. Dalam segi budaya juga masyarakat mengembangkan dari budaya
islam maupun budaya social, contoh budaya islam ialah di kehidupan masyarakat
masih menerapkan budaya tahlilan di suatu surau amupun perumah bahkan dalam
melaksanakan acara isro’ mi’roj lebih sederhana di bandingkan kota namun lebih
sering terlaksanakan dibandingkan dalam sekitaran kehidupan kota,
Budaya islam di masyarakat desa tidak dapat luntur
karena dalam sistem pembelajaran atau pendidikan lebih memantapkan nilai-nilai
budaya islam oleh sebab itu budaya dalam masyarakat desa ternilai kukuh.
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Keberagaman etnis ini
tergambar dengan adanya pemukiman seperti wilayah Pacinan dan Pedamaran.
Wilayah ini sekarang berada di sekita jalan Gang Pinggir sampai jalan Mataram.
Pemukiman ini didirikan oleh pendatang dari daratan Cina pada masa Laksamana
Chen Ho. Kemudian ada pemukiman orang-orang muslim melayu yang mendirikan
pemukiman di kawasan Kampung Darat dan Kampung Melayu. Demikian juga orang
muslim Arab, India, Pakistan dan Persia yang datang mendirikan pemukiman di
wilayah Pakojan. Kawasan ini di sekitar jalan Kauman, jalan Wahid Hasyim sampai
jalan Petek di bagian Utara. Sedangkan pandangan masyarakat terhadap peradaban
islam ialah memiliki berbagai jenis yaitu islam rasionalis, islam kritis,
maupun islam peradaban sehingga peradaban islam ini dapat menimbulksn berbagai
macam pemikiran.
Peran dan fungsi
peradaban islam ialah menciptakan islam berbudaya contoh dalam fungsi madrasah
maupun sekolah tinggi islam(STI) berperan sebagai obyek dalam perkembangan
budaya islam maupun social.
Perbedaan dalam melaksanakan
peradaban islam di lingkungan masyarakat kota maupun pedalaman ialah tergantung
pada sistem, kehidupan social, pendidikan maupun keagamaan. Sehingga diantara
ketiga unsur itulah yang dapat menciptakan kekuatan maupun kelemahan dalam
budaya dan peradaban islam.