Minggu, 07 Agustus 2016

MAKALAH
PERADABAN ISLAM DILINGKUNGAN
MASYARAKAT KOTA

Makalah ini disusun untuk memenuhi
Tugas mata kuliah pemikiran dan peradaban islam
Dosen pengampu: Dr.H. Muslich Ks,M.Ag

Disusun Oleh:
Ruli Aripin
15421160


HUKUM ISLAM
FAKULTAS ILMU AGAMA ISLAM
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA
2015/2016





DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL……………………………………………………………………………….......

DAFTAR ISI………………………………………………………………………………………….i

BAB II.PENDAHULUAN…………………………………………………………………………....ii
A.   LATARBELAKANG……………………………………………………………………..ii
B.   RUMUSANMASALAH………………………………………………………………….ii
C.    TUJUAN PENELITIAN…………………………………………………………………iii

BABII. PEMBAHASAN…………………………………………………………………………….1

A.    SOSIALISASI KULTUR MASYARAKAT KOTA…………………….……….............1
B.    PANDANGAN MASYARAKAT KOTA TERHADAP PERADABAN ISLAM…….......2
C.    PERBEDAAN PERADABAN ISLAM KOTA DAN DI PEDALAMAN..........................11

BAB III. PENUTUP…………………………………………………………………………............12

KESIMPULAN………………………………………………………………………………...........12






BAB I
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG

            Perkembangan peradaban yang dikenal sebagai era globalisasi di dunia ini semakin menunjukkan eksistensinya sebagai peradaban yang selalu berkembang. Dampak dari perkembangan era yang serba digital ini sangat signifikan dalam kehidupan manusia. Ia datang kepada manusia untuk memudahkan manusia dalam segala aktifitasnya. Bahkan imbas dari peradaban tersebut masuk ke dalam kebudayaan, termasuk ke dalam budaya-budaya bangsa Indonesia.
Masuknya era globalisasi ke dalam kebudayaan manusia menganggap bahwa sebagian kebudayaan tersebut ketinggalan zaman. Walaupun masih ada sebagian masyarakat yang mentradisikan kebudayaan tersebut. Akan tetapi sebagian masyarakat sebagai pelestari kebudayaan lambat laun mulai meninggalkan kebudayaan yang diciptakan oleh nenek moyang. Bahkan muncul anggapan kebudayaan yang baru dipercaya sebagai kebudayaan yang modern.
Sejatinya apabila ditelusuri kebudayaan merupakan refleksi dari nilai-nilai, pandangan, kebutuhan, keyakinan dan gagasan yang secara integratif diyakini oleh kemunitas pendukungnya. Kebudayaan ini juga dapat dinyatakan sebagai jati diri sebuah masyarakat Karena kebudayaan itu sendiri adalah hasil kegiatan dan penciptaan batin (akal budi) manusia seperti kepercayaan, kesenian dan adat istiadat. Diartikan juga sebagai keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yang digunakan untuk memahami lingkungan serta pengalamannya dan yang menjadi pedoman tingkah lakunya. Oleh karena itu, betapa pentingnya kedudukannya dalam kehidupan masyarakat, maka perlu adanya pernyataan dan sosialisasi dan proses pewarisan pada generasinya berikutnya.


B.     RUMUSAN MASALAH

1.     Apa peran sosialisasi kultur masyarakat kota?
2.     Bagaimana pandangan masyarakat kota semarang terhadap peradaban islam?
3.     Apa peran fungsi peradaban islam dimasyarakat kota?
4.     Bagaimana  perbedaan peradaban islam di lingkungan kota dan pedalaman?





BAB I
PEMBAHASAN

A.    SOSIALISASI KULTUR MASYARAKAT KOTA

          Masyarakat yang ada di Kota termasuk masyarakat yang religius. Di mana setiap individu memeluk dan menjalankan agama dan kepercayaannya masing-masing. Hal ini tidak lepas dari sejarah kota merupakan salah satu yang menjadi obyek persinggahan dan penyebaran agama, terutama agama Islam yang mayoritas penduduk kota Semarang beragama Islam.

     Dalam kehidupan beragama, masyarakat kota juga memiliki ritual-ritual khas keagamaan yang dilaksanakan sebagai tradisi masyarakat. Selain ritual ibadah yang telah diwajibkan agama masing-masing. Ritual tersebut yang mentradisi dilakukan secara kolektif oleh masyarakat secara turun-menurun dengan tata cara tertentu. Dalam proses tersebut terjadi akulturasi antara nilai-nilai agama yang dianut dengan budaya etnik tertentu, bahkan ada yang merupakan akulturasi multikultural. Terlebih dalam  menjadi kota banyak disinggahi dari berbagai etnis pendatang dari berbagai negara.

          Keberagaman etnis ini tergambar dengan adanya pemukiman seperti wilayah Pacinan dan Pedamaran. Wilayah ini sekarang berada di sekita jalan Gang Pinggir sampai jalan Mataram. Pemukiman ini didirikan oleh pendatang dari daratan Cina pada masa Laksamana Chen Ho. Kemudian ada pemukiman orang-orang muslim melayu yang mendirikan pemukiman di kawasan Kampung Darat dan Kampung Melayu. Demikian juga orang muslim Arab, India, Pakistan dan Persia yang datang mendirikan pemukiman di wilayah Pakojan. Kawasan ini di sekitar jalan Kauman, jalan Wahid Hasyim sampai jalan Petek di bagian Utara.

         Keberagaman penduduk tersebut juga membuat keberagaman kebudayaan. Setiap warga mempunyai kebudayaannya sendiri-sendiri berdasarkan negara asalnya. Namun seiring berjalannya zaman terjadi sebuah pembauran secara kultur. Seolah tidak ada batas antara kelompok masyarakat satu dengan masyarakat yang lain. Sehingga jadi sebuah masyarakat yang multikultul dan multietnis. Dengan keadaan tersebut, tidak di ragukan lagi bahwa islam berperan aktif dalam proses kemajuan zaman dan globalisasi budaya. Globalisasi adalah proses penyeluruhan kejagatan yang menempatkan berbagai fenomena kealam semestaan sebagai objek yang kecil di mata setiap manusia.

Masyarakat semangat mencari ilmu untuk mengejar kedua kajian besar manusia,realita islam di lingkungan perkotaan menunjukan fenomena yang baik dalam keagamaan maupun dalam social keagamaan , hal ini sejalan dengan kemajemukan masyarakat kota itu sendiri, atas dasar suku,bahasa, agama, segmentasi umat islam di lingkungan kota antara lain memiliki dimensi yang bersifat kultural maupun modern, artinya keragaman kelompok masyarakat itu memiliki latar belakang budaya  dan peradaban keagamaan yang relative berbeda, sejalan dengan perbedaan latar belakang budaya kemasyarakatan mereka.

        Pengaruh latar belakang peradaban islam dikota dimaksud dapat diamati tentang pembahasan pemikiran social keagamaan baik yang NU maupun muhamadiyah telah banyak di telaah dan dipublikasikan, tetapi munculnya pemikiran islam Indonesia yang dikembangkan oleh individu.

B.       PANDANGAN MASYARAKAT KOTA TERHADAP PERADABAN ISLAM

Sebagian umat islam dilingkungan memiliki pandangan islam dalam menghadapi berbagai peradaban islam diantaranya yaitu:

1.     Memiliki pandangan islam kritis

Segala persoalan yang dihadapi oleh masyarakat islam dikota pada umumnya, dan khususnya di Indonesia. Dia memahami bahwa akibat penjajahan yang cukup lama itu, umat islam dapat mengalami penderitaan lahir dan batin, kemiskinan lahir batin ini menjadika sasaran empuk bagi seruan faham faham dan ideology-ideologi seperti komunisme di lingkungan masyarakat kota  dan berbagai aliran-aliran, umat islam di rasakan terancam secara krusial bahkan oleh campur aduk dari tradisi-tradisi dan kepercayaan-kepercayaan yang serba khayal.

Diantara, usaha dalam meluruskan pengertian, pemahaman, dan pengalaman ajaran islam. Sebagai penganut faham ortodok dan modernis, perjuanagan untuk memurnikan dan meluruskan faham ke islaman tentu merupakan perjuangan yang utama. Ajaran islam untuk menjadi dasar pegangan tentang faham dan pengalaman ajaran islam yang lurus dan benar, dinamis, di lingkungan masyarakat kota tentunya di dalam peradaban islam yang seiring dengan perkembangan yang pesat di masyarakat kota tersebut. Pengertian pemahaman dilingkungaqn masyarakat kota dalam memahami agama untuk berusaha membangkitkan perhatian umat islam agar mendalami ilmu filasafat dan ilmu agama dalam hubungannya dengan agama. Perjuangan untuk membangkitkan umat islam minat dalam beragama sebagai modernis ortodoks masyarakat kota berusaha membentengi diri agar tidak terpengaruh dan terperosok kedalam agama-agama,ideology,ajaran-ajaran,dan faham yang sesat serta menyesatkan.

Sebagai masyarakat di lingkungan perkotaan sadar bahwa didalam kehidupan modern, umat islam berhadapan dan mendapat pengaruh dari berbagai paham keagamaan, ideology, dan aliran-aliran kepercayaan lain.

2.     islam rasional

Para pemikir islam rasional antara lain memiliki pikiran-pikiran keagamaan yang terfokus pada kenyataan bahwa al-qur’an tidak memberikan panduan-panduan kehidupan secara detail. Karenanya ijtihad menjadib sangat penting dalam bermusyawarah dilingkungan masyarakat. Makna dari mekanisme untuk melakukan interprestasi atau reaksi atas doktrin ajaran islam.dalam hal ini, kaum muslimin perlu untuk mempertimbangkan pentingnya aspek-aspek local, kontekstual dan temporal dalam pengembangan pemikiran . dengan demikian, kehidupan keagamaan komunitas muslim di masyarakat kota tidak akan tercerabut dari nilai-nilai peradaban dan budaya mereka.

Obsesi kepada islam rasional, paling tidak mempunyai relevansi dalam dua hal. Pertama, dalam hal memperkenalkan etos rasionalitas dalam pemikiran islam. Dampak rasionalitas dalam pemikiran islam ini adalah pembebasan masyarakat dari hal-hal bersifat mitologis. Kedua, mencari pandangan-pandangan islam mengenai kapasitas manusia yang mempunyai kebebasan.

Dalam membangun dasar islam rasional ini, masyarakat melakukan eksplorasi tema-tema pokok teologis tentang pandangan mengenai fungsi islam peradaban. Serta memberi keyakinan dasar-dasar rasionalis yang kuat bagi munculnya intlektualisme islam dilingkungan masyarakat. Sebaliknya, islam diposisikan sebagai factor komplementer dalam pembentukan struktur social, budaya, dan politik nusantara yang heterogen dan usaha untuk menempatkan sebagai “pemberi warna tunggal” hanya akan menghantarkan sebagai factor divisive.

Gagasan islam sebagai factor komplementer kehidupan social-budaya ,dan politik Indonesia dengan gagasan yang mengajak komunitas islam untuk tidak memperlakukan islam sebagai sebuah ideology alternative.dalam pandangannya, sebagai komponen utama dalam struktur social masyarakat Indonesia, islam hendaknya tidak dileteakan secara berhadap-hadapan dengan komponen-komponen lain.
Meskipun demikian, masyarakat juga memperingati bahwa dalam proses pribumisasi tidak boleh terjadi pencampuran antara islam, budaya dan peradaban lokal. Kendatipun islam harus dipahami dengan mempertimbangkan konteks-konteks lokal , ciri islam harus tetap dipertahankan dalam bentuknya yang asli.

3
       Selain itu, masyarakat menyuarakan tentang perlunya kesadaran non-sektarianistik islam sambil mencoba khazanah yang intelektual yang dimiliki selama ini secara kritis. Genealogi intelektual keduanya ini hampir sama, yakni di besarkan dalam pergulatan yang intensif dengan kitab kuning di pesantren kemudian melakukan penggambaran ke dunia pemikiran barat secara lebih percaya diri karena legitimasi.
            
        Masyarakat muslim melihat masalah kemiskinan sebagai suatu yang terbatas pada kemampuan individual masyarakat. Hal itu hanya akan melestarikan kemiskinan itu sendiri, karena hanya akan berkesudahan pada struktur perekonomian yang ekspoilitas dan menghisap daya hidup golongan kecil belaka, apalagi katanya kalau pada kerangka yang sedemikian simplitif dimasukan juga berbagai kecenderungan yang tidak membantu pemecahan masalah kemiskinan itu sendiri. Seperti pendekatan skriptual dalam kehidupan beragama, sikap legal-formalistik dalam kehidupan social dan pandangan dunia yang serba apologetis.

3.     Islam sebagai peradaban

Problem-problem yang dihadapi oleh masyarakat islam seperti ordinasi hokum kekeluargaan muslim, keluarga berencana, riba dan bunga bank, zakat sebagai pajak, semabalihan mesin, soal sunah, hadist dan wahyu. Dalam demikian kaum neo-modernisme Indonesia, boelh diaktakan, walaupun tidak tepat betul. Yakni menjelaskan dan melakukan transformasi, tapi harus jelas memihak pada nilai-nilai humanisasi, liberalisasi, dan transendensi sebagai acuan perubahan.

Hal ini sejalan dengan tradisi kenabian bahwa tradisi kenabian setiap nabi yang baru selain memiliki kesinambungan ajaran dengan Nabi sebelumnya, juga advokasi untuk misi baru. Nabi Muhammad saw adalah penerus tradisi monoteistik  dari nabi Ibrahim. Namun demikian, missi yang lebih penting dari nabi Muhammad saw adalah reformasi kehidupan masyarakat arab yang didasarkan pada patronase jahiliyah yang ekspoilitatif. Dengan ajaran tauhid yang menyatakan bahwa Allah swt lah yang berhak di sembah, maka Muhammad saw telah menciptakan mekanisme transendensi manusia untuk bias mempertanyakan apa saja di luar Allah swt, termasuk struktur sosialnya yang menindas. Penindasan itu itulah yang membuat manusia mati martabat dan harkat dirinya, bukan karena kehendak Allah, tapi karena jeratan strukturalnya sendiri.

4.     Islam insklusif-pluralis

Insklusif-pluralis adalah paham keberagaman yang didasarkan pada pandangan bahwa agama-agama lain yang ada di dunia ini sebagai yang mengandung kebenaran dan dapat memberikan manfaat serta keselamatan bagi penganutnya. Disamping itu, tidak semata-mata menunjukan pada kenyataan tentand adanya kemajemukan, melainkan  ketertiban aktif pada terhadap kenyataan kemajemukan tersebut.

Secara perlahan-lahan paradigm eksklusif dalam beragama mulai ditinggalkan, karena tantangan etika kini lebih nyata dari pada tantangan teologis. Agma-agama dunia mulai mengadopsi sikap inklusif yang terbuka dan mau mengerti pengalaman beragama umat lain. Dialog adalah kata kunci didalamnya. Mengenai pergeseran agama-agama keparadigma inklusif dan respon islam dalam menghadapinya.

5.     Islam integritas

Islam integritas adalah pandangan para tokoh ilmuan muslim Indonesia yang menyatakan bahwa terdapat kesesuaian dengan islam, terutama ayat-ayat al-qur,an. Dengan pendekatan integritas integritas islam menujukan lapis-lapis struktur ilmu pengetahuan bagi masyarakat yang dapat dimasuki dan diwarnai oleh unsur-unsur islam, dengan dasar pandangan tersebut diatas, paar tokoh ini sering kali menunjukan kesesuaian temuan ilmu pengethuan kontemporer dengan islam metafisika. Hal ini sejalan dengan munculnya literatur ilmu pengetahuan kontemporer yang di ilhami oleh pengamatan akan adanya kesejajaran ilmu pengetahuan.

6.     Islam kultural dinamis-dialogis

Di tengah kesimpangsiuran pelbagai identitas islam yakni islam yang dijajakan oleh banyak cendikiawan muslim Indonesia akhir-akhir ini, pemikiran islam kultural dinamis ini memberiakan arahan yang jelas bagi masyarakat lingkungan modern setidaknya pemetaan wacana keislaman yang dilakukan penggagasnya ini merupakan bagian dari agenda ijtihad dan tajdid masyarakat kontemporer. Ini dilakukan untuk mencoba mengubah paradigma keagamaan dari sekedar gerakan pembaharuan yang cenderung menafikan isu-isu strategis untuk menempatkan nilai-nilai universal dari norma islam ke arah sebuah gerakan yang benar-benar memperhitungkan, moralitas,estetiaka,ekologi,ekonomi,dan hak-hak asasi manusia, serta relasi pria dan wanita.

7.     Islam eksklusif

Islam eksklusif merupakan pandangan sikap bahwa yang memandang keyakinan,pandangan,pikiran,dan prinsip diri sendirilah yang paling benar sementara keyakinan,pandangan,pikiran,dan prinsip yang dianut orang lain salah, sesat dan harus dijauhi. Baik bersifat keluar terhadap agama lain maupun kedalam yaitu dalam islam sendiri melalui berbagai mazhab atau aliran dalam berbagai bidang,fiqih,teologi maupun tasawuf. Anggapan yang dibangun, bahwa mazhab atau alirannyalah  yang paling bena, sedangkan yang lain salah dan bahkan dinilai sesat.

Penyebab munculnya islam eksklusif dilingkungan masyarakat ialah wawasan yang sempit. Sikap yang dibangun hanya untuk mengetahui satu mazhab atau satu aliran saja dalam aliran teologi,fiqih,tasawuf,dan sebagainya. Sehingga masyarakat menjadi bimbang dalam menentukan suatu hokum dalam memilih berbagai mazhab. Sesuai dengan fitrah manusia, kesempurnaan ajaran islam dinilai dengan melihat bahwa ajaran islam yang sempurna, sesuai dengan fitrah manusia dari sini timbullah anggapan sikap yang tidak merasa perlu lagi belajar atau mengetahui agama yang lain.atau malah sebaliknya, penganut-penganut agama inilah yang seharusnya masuk agama islam.

Timbulnya eksklusif pada bagian kalangan penganut agama islam, tidak bias dilepaskan dari factor sejarah. Ini sangat berkaitan dengan berbagai konflik yang terjadi seperti konflik islam dengan Kristen dalam perang salib selama 3 abad atau konflik yang sama.

Penting untuk dikemukakan disini, bahwa tidak mengakui keberadaaan suatu paham atau aliran keagamaan,sama saja dengan tidak menghargai hak asasi manusia. Keberadaan suatu aliran keagamaan tidak memerlukan pengakuan dari sebuah institusi apapun, termasuk institusi keagamaan. seiring dengan itu, dalam sejarahnya pelaranagn terhadap berbagai aliran keagamaan dalam kenyataannya tidak efektif. Sebab, hal ini menyangkut keyakinan pribadi seseorang.keyakinan seseorang tidak mungkin ditaklukan dengan kekuasaan atau kekuatan mayoritas. Hal ini merupakan prinsip kebebasan ekspresi keagamaan atau penafsiran terhadap agama.

Pemaksaan dalam hal agama adalah bertentangan denagn ajaran agama itu sendiri dan secar diametral juga bertentangan martabat manusia sebagai makhluk yang merdeka.

C.    PERAN PERADABAN ISLAM DI MASYARAKAT KOTA

1.     Pendidikan

Pesantren adalah salah satu sistem pendidikan Islam yang ada diIndonesia dengan ciri yang khas dan unik, juga dianggap sebagai sistem pendidikan paling tua di Indonesia. Pesantren merupakan salah satu unsur penggerak Islam di Indonesia,  menjadi tempat penyebaran Islam sekaligus berperan dalam bidang keagamaan, pendidikan, sosial, politik dan ekonomi. Peran-peran itu sampai saat ini masih melekat pada diri pesantren. Pelaksanaan kegiatan ini  merupakan sebuah ekspresi dan penyadaran umat Islam Indonesia yang merupakan muslim terbanyak di dunia terhadap potensi pesantren sebagai salah satu pusat peradaban Islam Indonesia.Selain itu, dalam pendidikan Islam di Indonesia juga dikenal adanya Madrasah Ibtidaiyah (dasar),madrasah Tsanawiyah (lanjutan), dan Madrasah Aliyah (menengah). Untuk tingkat universitas Islam di Indonesia juga kian maju seiring dengan perkembangan zaman, hal ini dapat dilihat dari terus beragamnya universitas Islam. Hampir disetiap provinsi di Indonesia dapat dijumpai Institut Agama Islam Negeri serta beberapa universitas Islam lainnya.
2.     Peran pesantren

Pesantren adalah salah satu sistem pendidikan Islam yang ada diIndonesia dengan ciri yang khas dan unik, juga dianggap sebagai sistem pendidikan paling tua di Indonesia. Pesantren merupakan salah satu unsur penggerak Islam di Indonesia,  menjadi tempat penyebaran Islam sekaligus berperan dalam bidang keagamaan, pendidikan, sosial, politik dan ekonomi. Peran-peran itu sampai saat ini masih melekat pada diri pesantren. Tujuan berdirinya pesantren dalam lingkungan masyarakat:

1.    Pesantren sejak awal tetap konsisten melakukan peran dakwah keagamaan, peran pendidikan dan peran pencerdasan umat sehingga mampu menghasilkan tokoh ulama  panutan, tokoh nasional, para pejuang kemerdekaan, para pejabat pemerintahan, politisi, tokoh pendidik dan ilmuan. Banyak komunitas santri yang berasal dari pesantren memainkan peran penting pada institusi-institusi strategis.

2. Pesantren mampu mensintesiskan antara modernisme dengan tradisi Islam yang menjadi kekuatan pesantren. Kekuatan tradisional yang dimiliki oleh pesantren di antaranya adalah kekayaan khazanah keilmuan klasik yang tertuang dalam kitab kuning. Sehingga, pelbagai wacana publik seperti demokrasi, kesetaraan jender, HAM, dan lain-lain diperkuat oleh kalangan pesantren secara teologis.

3.  Perkembangan dan perubahan dalam pesantren sangat signifikan. Jumlah pesantren semakin bertambah dan bentuk pelayanan yang diberikan semakin berkembang dengan mengadopsi sistem pendidikan di luarnya mulai dari pendidikan non formal, pendidikan formal sampai berbagai program dan pendidikan ketrampilan. Pendidikan formal yang berkembang mulai dari  pra sekolah, pendidikan dasar, menengah sampai pendidikan tinggi. Dari sistem pendidikan pesantren secara linear berkembang menjadi pendidikan agama dan keagamaan seperti madrasah dan perguruan tinggi agama dan universitas Islam. Dengan perkembangan itu pesantren menjadi embrio bagi perdaban Islam sesungguhnya di Indonesia.

4.     Organisasi

Terdapat beberapa organisasi Islam di Indonesia, di antaranya adalah Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Jamiat Khair, sebuah organisasi Islam tempat para ulama dan aktivis bergabung, tempat bermulanya Ahmad Soorkati mengawali karier

            dakwahnya di Indonesia. Ia diundang secara khusus oleh gerakan ini untuk menjadi pengajar pada berbagai badan pendidikan yang dirintisnya pada tahun 1912. Ia datang dari Sudan, membawa dan mengusung pola pikir rasional dalam berbagai kuliahnya. NU merupakan organisasi Islam terbesar di Indonesia dengan anggota sekitar 35 juta. NU seringkali dikategorikan sebagai Islam traditional, salah satunya karena sistem pendidikan pesantrennya. Muhammadiyah merupakan organisasi Islam terbesar kedua, dengan anggotanya yang sekitar 30 juta. Muhammadiyah memiliki ribuan sekolah, universitas, dan lembaga pendidikan tinggi serta ratusan rumah sakit di seluruh Indonesia.

           
        Selain ketiga organisasi diatas, di Indonesia juga dikenal adanyaFront Pembela Islam, Majelis Mujahidin Indonesia, dan Hizbut Tahrir Indonesia.
Jauh sebelum Islam masuk ke Indonesia, bangsa Indonesia telah memeluk agama hindu dan budha disamping kepercayaan nenek moyang mereka yang menganut animisme dan dinamisme. Setelah Islam masuk ke Indonesia, Islam berpengaruh besar baik dalam bidang politik, sosial, ekonomi,maupun di bidang kebudayaan yang antara lain seperti di bawah ini.


5.     Budaya, Adat Istiadat dan Seni
            
        Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan sangat banyak dipengaruhi oleh bahasa Arab. Bahasa Arab sudah banyak menyatu dalam kosa kata bahasa Indonesia, contohnya kata wajib, fardu, lahir, bathin, musyawarah, surat, kabar, koran, jual, kursi dan masker. Dalam hal nama juga banyak dipakai nama-nama yang berciri Islam (Arab).Kebiasaan yang banyak berkembang dari budaya Islam dapat berupa ucapan salam, acara tahlilan, syukuran, yasinan dan lain-lain. Dalam hal kesenian, banyak dijumpai seni musik seperti kasidah, rebana, marawis, barzanji dan shalawat. Kita juga melihat pengaruh di bidang seni arsitektur rumah peribadatan atau masjid di Indonesia yang banyak dipengaruhi oleh arsitektur masjid yang ada di wilayah Timur Tengah.
6.     Politik

            Pengaruh ini dapat dilihat dalam sistem pemerintahan kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia seperti konsep khilafah atau kesultanan yang sering kita jumpai pada kerajaan-kerajaan seperti Aceh, Mataram. Demak, Banten dan Tidore. ada juga beberapa daerah yang diberikan keistimewaan untuk menerapkan syariat Islam, seperti Aceh.

        Seiring dengan reformasi 1998, di Indonesia jumlah partai politik Islam kian bertambah. Bila sebelumnya hanya ada satu partai politik Islam, yakni Partai Persatuan Pembangunan-akibat adanya kebijakan pemerintah yang membatasi jumlah partai politik, pada pemilu 2004 terdapat enam partai politik yang berasaskan Islam, yaitu Partai Persatuan Pembangunan,Partai Keadilan Sejahtera, Partai Bintang Reformasi, Partai Amanat Nasional, Partai Kebangkitan Bangsa dan Partai Bulan Bintang


7.     Ekonomi

            Daerah-daerah pesisir sering dikunjungi para pedagang Islam dari Arab, Persi,dan Gujarat yang menerapkan konsep jual beli secara Islam. Juga adanya kewajiban membayar zakat atau amal jariyah yang lainnya, seperti sedekah, infak, waqaf, menyantuni yatim, piatu, fakir dan miskin. Hal itu membuat perekonomian umat Islam semakin berkembang.

8.     Peran sekolah islam

Peran dalam sekolah islam ialah mewujudkan nilai-nilai sikap yang berbudi luhur dan menciptakan prilaku atau akhlak yang baik. Agar kehidupan masyarakat dapat seimbang antara kehidupan religious maupun social yang dapat tercermin oleh sikap di lingkungan masyarakat kota maupun di lingkungan masyarakat desa. Oleh karena itu, di laksanakannya sekolah islam agar setiap anak memiliki akhlakul karimah dan memiliki potensi nilai-nilai dasar islam contoh sekolah islam yang bertujuan untuk menciptakan nilai-nilai dasar islam dalam kehidupan masyarakat.
a.      Madrasah ibtidaiyah

Madrasah ibtidaiyah merupakan sekolah islam yang bertujuan untuk menciptakan dan membangun nilai-nilai dasar islam pada anak usia dini agar di dalam diri seorang anak tersebut memiliki akhlakul karimah terhadap kehidupan bermasyarakat bukan hanya itu tetapi juga, dengan adanya sekolah islam ini supaya seseorang anak ini dapat menyeimbangkan dalam kehidupan bermasyarakat. Sekolah ibtidaiyah ini bukan hanya di lingkungan masyarakat kota saja melainkan sekolah islam ini terdapat di wilayah desa, terutama di wilayah terpencil. Tujuan utama selain dalam sistem pendidikan sekolah islam ini juga dapat menciptakan peradaban islam dimasa dini hal ini agar seorang anak dapat menciptakan nilai-niali budaya islam yang matang dan memiliki sikap akhlak bernegara.

b.   Madrasah tsanawiyah
       
       Madrasah tsanawiyah ini merupakan sekolah islam tingkat menengah yang bertujuan untuk mematangkan sikap akhlak yang baik dalam kehidupan masyarakat dan dapat menyeimbangkan budaya islam maupun budaya social masyarakat. Hal ini merupakan tingkat lanjut dari nilai dasar yang telah tumbuh di sekolah islam tingkat dasar. Dan dari sini seorang anak di tuntut untuk memiliki sikap akhlakul kariamah yang dewasa. Agar dalam kehidupan masyarakat dapat memiliki akhlak yang berbeda dengan yang lain.

c.   Madrasah aliyah

Madrasah aliyah ini merupakan sekolah islam tingkat atas yang lanjutan dari madrasah tsanawiyah yang telah diajarkan nilai-nilai berbudaya,akhlakul karimah, serta dapat menciptakan nilai-nilai peradaban islam di lingkungan masyarakat kota maupun desa yang memiliki ragam budaya dan dari sinilah seorang anak tersebut dapat mengamalkan nilai-nilai peradaban islam yang telah di beri di tingkat awal. Selain itu, disekolah tingkat atas ini mereka bias menciptakan peradaban islam yang baik sehingga dapat di terima oleh masyarakat.

d.   STI
STI merupakan sekolah tinggi islam yang kelanjutan dari MA (madrasah aliyah) yang di dirikan untuk lebih mendalami nilai-nilai islam yang telah diajarkan di sekolah islam atas. Bukan hanya untuk mendalami nilai-niilai islam saja tetapi dapat menciptakan akhlak yang lebih matang dan memiliki pandangan yang luas. Hal ini bertujuan untuk awal dapat menciptakan kemaslahatan umat dan menciptakan amar ma’ruf nahi mungkar dalam negara maupun lingkungan masyarakat. Dan menciptakan seorang pemimpin yang ma’ruf dan dapat menjadikan peradaban islam yang baik di negara.

D.  PERBEDAAN PERADABAN ISLAM KOTA DAN DI PEDALAMAN

Peradaban islam di lingkungan masyarakat kota dan desa memang mempunyai perbedaan yang jauh, bahkan lebih maju peradaban islam dikota di bandingkan di pedalaman hal ini karena dilingkungan masyarakat kota mempunyai solidaritas yang lemah namun lebih unggul di perekonomian di banding solidaritas antar masyarakat. Sebab masyarakat kota lebih mementingkan perekonomian di bandingkan pluralisme beragama di sekitarnya sehingga peradaban islam di wilayah kota lebih modern dan lemah dalam peradaban islam. Oleh karena itu, di dalam peradaban islam diwilayah kota melemah karena kurang kerjasama antar warga. Bukan hanya peradaban islam saja yang melemah namun budaya islam seperti tahlilan dan isro’ mi’roj juga jarang. Ada namun dalam pelaksanaannya lebih besar di bandingkan di daerah pedesaan yang lebih mengutamakan acara selametan di sebuah surau.

Peradaban islam  di lingkungan masyarakat kota justru lemah namun modern. Bukti dari itu ialah dilihat dari aktifitas sehari-hari yaitu hilangnya rasa kebersamaan dalam lingkungan masyarakat kota. Beserta hilangnya budaya masyarakat seperti budaya tahlilan maupun syukuran. Mereka hanya mementingkan kehidupan diri sendiri maupun perekonomian, mereka kurang mempercayai dengan adanya mitos-mitos budaya baik budaya islam maupun non islam. Penyebab hilangnya budaya maupun pluralisme agama antar masyarakat yaitu berkembangnya pengetahuan modern yang cukup pesat, sehingga interaksi antar warga kurang.

Berbeda dengan peradaban islam di kehidupan masyarakat pedalaman, mereka lebih mengutamakan kehidupan social, peradaban islam, maupun unsur religious. Sehingga peradaban islam di lingkungan masyarakat pedalaman lebih kuat dibandingkan dengan peradaban islam di kota. Namun dalam sistem pendidikan masyarakat desa lebih lemah, tetapi tidak dengan sekarang justru kehidupan di pedalaman dapat seimbang antara kehidupan social dan religious, contoh kehidupan social dan religious ialah dalam,agama,pendidikan maupun perekonomian. Oleh karena itu, masyarakat desa dapat seimbang. Dalam segi budaya juga masyarakat mengembangkan dari budaya islam maupun budaya social, contoh budaya islam ialah di kehidupan masyarakat masih menerapkan budaya tahlilan di suatu surau amupun perumah bahkan dalam melaksanakan acara isro’ mi’roj lebih sederhana di bandingkan kota namun lebih sering terlaksanakan dibandingkan dalam sekitaran kehidupan kota,

Budaya islam di masyarakat desa tidak dapat luntur karena dalam sistem pembelajaran atau pendidikan lebih memantapkan nilai-nilai budaya islam oleh sebab itu budaya dalam masyarakat desa ternilai kukuh.

BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN

            Keberagaman etnis ini tergambar dengan adanya pemukiman seperti wilayah Pacinan dan Pedamaran. Wilayah ini sekarang berada di sekita jalan Gang Pinggir sampai jalan Mataram. Pemukiman ini didirikan oleh pendatang dari daratan Cina pada masa Laksamana Chen Ho. Kemudian ada pemukiman orang-orang muslim melayu yang mendirikan pemukiman di kawasan Kampung Darat dan Kampung Melayu. Demikian juga orang muslim Arab, India, Pakistan dan Persia yang datang mendirikan pemukiman di wilayah Pakojan. Kawasan ini di sekitar jalan Kauman, jalan Wahid Hasyim sampai jalan Petek di bagian Utara. Sedangkan pandangan masyarakat terhadap peradaban islam ialah memiliki berbagai jenis yaitu islam rasionalis, islam kritis, maupun islam peradaban sehingga peradaban islam ini dapat menimbulksn berbagai macam pemikiran.

            Peran dan fungsi peradaban islam ialah menciptakan islam berbudaya contoh dalam fungsi madrasah maupun sekolah tinggi islam(STI) berperan sebagai obyek dalam perkembangan budaya islam maupun social.

            Perbedaan dalam melaksanakan peradaban islam di lingkungan masyarakat kota maupun pedalaman ialah tergantung pada sistem, kehidupan social, pendidikan maupun keagamaan. Sehingga diantara ketiga unsur itulah yang dapat menciptakan kekuatan maupun kelemahan dalam budaya dan peradaban islam.
















Tidak ada komentar:

Posting Komentar